SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI

Selamat Datang di Blog KUA Kecamatan Lumajang

Monday, 17 January 2011

Jadikan 2011 Tahun Luar Biasa

Oleh: M Anwar Sani, Ketua Yayasan Daarul Qur’an Nusantara

di Jepara belum lama ini tewas setelah makan tiwul. Bagi orang berada, tiwul dengan bahan berkualitas yang diperkaya dan melalui pengolahan higienis, merupakan panganan icip-icip yang bergizi serta yummy.

Tapi bagi enam bersaudara tadi, makan tiwul seadanya adalah jalan terakhir daripada kelaparan akibat dililit kemiskinan. Nah, di Negeri Muslim terbesar di dunia ini, mampukah zakat menjawab tantangan kemiskinan tersebut? Zakat (atau sedekah wajib), seperti dikemukakan oleh Mustafa Edwin Nasution dalam Zakat Sebagai Instrumen Pembangunan Ekonomi Umat di Daerah, merupakan instrumen penanggulangan kemiskinan yang solutif dan sustainable dibanding instrumen fiskal konvensional.


Alhamdulillah, klaim teoritis tersebut tidak sekadar sebuah apologia. Misalnya hasil penelitian Irfan Syauqi Beik terhadap efektivitas Program Baznas (Badan Amil Zakat Nasional).

Dalam riset untuk disertasinya, Beik (2010) menganalisa kinerja program pendayagunaan zakat Baznas dengan menggunakan sejumlah indikator; Koefisien Gini dipakai untuk mengukur kesenjangan pendapatan, Headcount Index untuk mengukur jumlah orang miskin, Poverty dan Income Gap untuk mengukur tingkat kedalaman kemiskinan, serta Sen Index dan FGT (Foster Greer and Thorbecke) Index untuk mengukur tingkat keparahan kemiskinan.

Berdasarkan penelitian lapang pada Pebruari-Juli 2008 terhadap 104 rumah tangga miskin penerima manfaat program Baznas yang dipilih secara acak di DKI Jakarta, diketahui bahwa zakat yang disalurkan melalui beragam program yang bersifat produktif dan konsumtif, ternyata mampu mengurangi kesenjangan dan kemiskinan mustahik. Beik menemukan bahwa proporsi pendapatan 40 persen kelompok termiskin pasca zakat dapat ditingkatkan sebesar 1,30 persen. Sementara, dari sisi kesenjangan, penurunan rasio gini sebesar 0,29 persen mengindikasikan bahwa zakat dapat mengurangi kesenjangan antar kelompok masyarakat, meski angkanya masih sangat kecil. Selanjutnya, jumlah kemiskinan mustahik dapat dikurangi sebesar 7,70 persen.

Hal tersebut dapat dilihat dari angka headcount index pasca zakat yang Innalillahi…. enam orang bersaudara mengalami penurunan dari 86,50 persen menjadi 78,80 persen. Sedangkan tingkat kedalaman kemiskinan mustahik juga dapat diminimalisir, sebagaimana diindikasikan oleh penurunan poverty gap (13,05 persen) dan income gap (13,14 persen). Demikian pula dengan tingkat keparahan kemiskinan mustahik yang juga dapat dikurangi dengan adanya zakat. Hal ini berdasarkan pada penurunan nilai Sen index (19,30 persen) dan FGT index (27,96 persen).

Penelitian dengan hasil kurang lebih sama, juga dilakukan Indonesia Magnificence Of Zakat (IMZ). ”Potensi zakat terbukti membantu menyelesaikan masalah kemiskinan,” kata Direktur Utama IMZ, Nana Mintarti, dalam acara IMZ Award di Jakarta, Selasa (21/12/2010). Zakat mampu memberi dampak positif bagi pengentasan kemiskinan. Utamanya bagi tiga persoalan dasar kemiskinan yaitu jumlah kemiskinan, kesenjangan pendapatan, dan keparahan kemiskinan.

Kesimpulan itu, dikatakan Mintarti, merupakan hasil riset yang dilakukan oleh IMZ dengan tema “Kajian Empirik Dampak Zakat terhadap Pengurangan Kemiskinan” yang terangkum dalam Indonesia Zakat and Development Report (IZDR) 2011: Kajian Empiris Peran Zakat dalam Penanggulangan Kemiskinan.

Mintarti menjelaskan, dalam survei yang dilakukan pada 821 rumah tangga (RT) miskin dari total 4,646 populasi RT penerima dana zakat di Jabodetabek dari 8 Organisasi Penerima Zakat (OPZ) ditemukan bahwa dengan dana zakat yang diberikan, jumlah kemiskinan mustahik dapat dikurangi sebesar 10,79 persen. Kemudian rata-rata pendapatan RT miskin terhadap angka garis kemiskinan DKI Jakarta dapat diperkecil.

Semula Rp 442.384,20 menjadi Rp 422.076,30 atau 4,69 persen dampaknya bagi pengurangan kesenjangan kemiskinan. Selain itu, dari sudut pandang kedalaman kemiskinan intervensi zakat mampu mengurangi keparahan kemiskinan sebesar 12,12 sampai 15-97 persen. Kedua hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa efektivitas zakat terjadi melalui pendayagunaan yang bersifat produktif disertai yang konsumtif (karitatif).

Maka, tak keliru kiranya jika tahun 2011 ini PPPA Daarul Qur’an menggemakan tema ‘’Jadikan Sedekah Anda Luar Biasa’’ melalui sedekah produktif. Sedekah produktif bagai pohon dari bibit terbaik, yang akarnya kuat menghunjam, rindang dahannya kokoh, rimbun daunnya menyejukkan, dan panen buahnya dinikmati banyak orang. Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa suatu hari Umar bin Khattab mendatangi Nabi dan berkata, ‘’Aku mendapat bagian tanah di Khaibar yang luar biasa produktif. Aku bahkan belum pernah mendapatkan harta yang lebih berharga dari tanah itu.

Apa yang sebaiknya kulakukan terhadapnya?’’ Rasulullah menjawab, ‘’Tahan modalnya, dan sedekahkan hasilnya.’’ Maka Umar lalu menyedekahkan tanahnya itu untuk kepentingan kaum dhuafa. Ia tidak boleh dimiliki perorangan, dijual, dihibahkan, dan tidak pula diwariskan. Penggarap tanah dipersilakan mengambil sebagian hasil panen secukupnya, dan sebagian besar lainnya untuk fakir-miskin di sekitar kebun.

Demikianlah, jika sedekah berupa asset produktif, atau dana sedekah ditumbuh-kembangkan melalui usaha produktif. Pokok dana sedekah terjaga, dan hasil perputarannya menghidupi Pesantren Tahfidz, Pendidikan Penghafal Al Qur’an, Guru dan Rumah Tahfidz, dan sebagainya yang mendukung pemuliaan Al Qur’an. Lalu biarkan sedekah Anda ‘’bekerja’’ untuk mewujudkan janji-Nya: "Perumpamaan (derma) orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebiji benih yang tumbuh menumbuhkan tujuh bulir, yang tiap bulir mengandung seratus biji.

Ingatlah, Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui" (QS Al-Baqarah: 261). Sedekah produktif dalam bentuk dana akan dikembangkan melalui beragam unit usaha produktif seperti peternakan, pertanian, perikanan, dan perhotelan. Dengan demikian, sedekah masyarakat pun akan menjadi luar biasa, karena dananya berkembang dan hasil usahanya mendukung pelestarian dan pengembangan Program Pembibitan Penghafal Al Qur'an. Meski masih relatif kecil, langkah besar itu telah dimulai.

Di antaranya adalah RS Nurul Hidayah Bantul Yogyakarta, yang sebagian hasilnya disalurkan sebagai beasiswa Penghafal Al Qur’an yang dikelola PPPA Daarul Qur’an. Demikian juga Hotel Anggrek Daqu di Kuala Tengah, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Asset bernilai sekitar Rp 1 Milyar ini, tadinya milik Hj Susilowati. Sebagai rasa syukur atas kelimpahan rejekinya, sejak April 2010 Hj Wati menyedekahkan hotelnya melalui PPPA Daqu. Jadilah ia Hotel Anggrek Daqu, yang juga Rumah Tahfidz.

Sebagian besar hasil usaha hotel, digunakan untuk membiayai Rumah Tahfidz di lantai 2, yang memiliki santri sekitar 100 anak dari keluarga sekitar hotel. Sedangkan pasangan Jody Brotoseno dan Siti Hariyani, menyedekahkan Waroeng Daqu di Gejayan Kota Yogyakarta, salah satu dari puluhan outlet Café Steak and Shake milik mereka, untuk menghidupi sejumlah Rumah Tahfidz yang mereka dirikan.

Ada lagi sebuah kios di ITC Depok lantai 1 Blok B4 dan B5, yang disedekahkan Ny Asiah Zuhri untuk mendukung Program Pembibitan Penghafal Al Qur'an. PPPA Daqu pun mengembangkan sendiri sedekah produktif melalui usaha semisal PPPA Shop dan Ternak Qurban Eksport (Ekonomi Produktif Pesantren). Dengan bersedekah produktif, semoga kita lebih baik lagi di tahun 2011.

No comments:

Post a Comment